EP 01: Kelas Politik Mas Adri
Di episode perdana podcast Jurnal Pivot, redaksi berbincang dengan Mas Adri, dosen Hubungan Internasional di Universitas Parahyangan, selayaknya sesi diskusi di kelas mengenai Perang Iran, politik kanan, dan isu-isu kontemporer lainnya.
Transkrip
Langsung Mengenai Perang Iran
Kita mulai aja langsung, karena hari ini ada perkembangan di Timur Tengah tentu saja dan sampai hari ini juga masih terjadi terus eskalasinya. Di pagi saya baca berita tentang Israel masih nerbangin roket ke Lebanon. Kira-kira apakah ini akan terus berlanjut mas eskalasinya? Mungkin karena ini lagi gencatan senjata. Tapi kan Donald Trump masih agak unpredictable. Pembacaan mas Adri gimana nih?
Ya kan sebetulnya kan ada peristiwa yang sebetulnya sangat menarik ya, di selat hormuz itu. Yang namanya dual blockade. Jadi blokade oleh dua pihak. Itu sebetulnya bisa dibilang setahu saya malah belum ada duanya ya, unprecedented ya. Maksudnya ada dua pihak memblokade pada titik yang sama. Dan sampai hari ini, apa namanya, yang parah juga nih soal Trump ini adalah bahwa kalau kita bicara diplomasi Trump, Trump itu diplomasinya bukan atas benar-benar kepentingan nasional.
Kepentingan pribadi, penampilan, dan terus-terus. Makanya kita kan tidak pernah tahu, tiba-tiba ngomongnya Iran sudah memberikan konsesi padahal belum. Jadi masalahnya adalah, kenapa sampai hari ini kita belum tahu ujungnya mau kemana adalah, karena kita tidak bisa membaca sebetulnya kepentingan yang disebut kepentingan Amerika atau yang saya selalu bilang kita gak boleh nyebut lagi Amerika, tapi kita nyebutnya kepentingan Trump. Itu kan tidak pernah jelas.
Dan itu berubah-ubah gitu kan. Kalau kita ingat peristiwa ini bahwa pertama katanya akan membantu demonstran, kemudian tiba-tiba soal nuklir, kemudian Iran dibilang rudalnya sudah sampai Amerika. Itu kan semua ngawur, semua gitu kan. Gak ada. Makanya bisa dibilang kita gak tahu arahnya mau kemana. Gak ada yang bisa nebak lah.
Karena sekali lagi ini kan bukan sebuah kebijakan luar negeri yang benar ya. Kebijakan luar negeri kan sesuatu yang terencana dan seterusnya. Tapi kalau ini kan kesannya sesuai selera kan lebih tepatnya. Inilah yang menjadi masalah kenapa kita sebetulnya tidak pernah tahu sampai kapan ya. Tapi paling tidak apa yang saya pernah bilang waktu baru meletus itu, tanggal 28 Februari kalau saya gak salah, saya udah bilang sih selalu kalau ditanya, enggak, enggak, bulan Mei belum selesai. Atau bulan April, waktu itu bulan April belum selesai.
Dan ternyata terbukti kan. Karena sekali lagi kalau saya ngelihatnya sih sederhana saja. Karena tujuan Amerika tidak jelas. Kalau tujuan Amerika jelas artinya misalnya katakanlah dulu di awal bahwa mau menjatuhkan rezim, sudah selesai dong. Kemudian akan menghentikan pengayaan uranium. Sudah selesai dong. Uraniumnya kan sekarang udah tenggelam nih. Tenggelam di tumpukan reruntuhan bom. Tapi kan sekarang sekali lagi berubah-ubah terus.
Tiba-tiba dia minta Iran supaya menyerah total. Dia merasa sudah menang. Tapi kemudian kan Iran tentu saja tidak mau menyerah. Dia nyerang juga. Dan sekarang Iran melebar ke sekutu Amerika di sekitarnya. Kemudian di Hormuz juga. Jadi kenapa saya bilang tidak bisa ditebak? Karena sekali lagi ini sangat personal. Dan kalau saya sih melihatnya, karena kebetulan saya anti-Trump. Iran itu bereaksi atas dasar apa yang dikemukakan Trump.
Sedangkan Trump sendiri kita nggak tahu besok itu mau ngomong apa. Itulah makanya kenapa tidak selesai-selesai. Jadi yang bisa menyelesaikan mungkin sebetulnya adalah domestik Amerika. Yaitu keadaannya makin memburuk dalam arti secara ekonomi memburuk. Kemudian popularitasnya jatuh. Baru itu yang akan menghentikan. Tapi bukan situasi di Timur Tengah yang menghentikan. Jadi situasi di Amerika. Khususnya terkait dengan Partai Republik yang tampak, sebetulnya ini tanggal 1 Mei.
Kalau saya nggak salah tolong dikoreksi. Itu nanti Trump itu harusnya lapor. Karena itu udah 60 hari kan. Dia melakukan perang tanpa laporan ke Kongres. Beberapa anggota Republik kan sebetulnya udah mulai goncang. Mereka sampai sekarang masih mendukung.
Tapi lama-lama bisa goncang. Karena mereka lama-lama tak sadar bahwa ini akan merusak Amerika khususnya. Secara ekonomi ya. Dan sebetulnya mereka kurang peduli sih dengan dunia sih. Karena mereka lebih peduli dengan jajak pendapat umum. Itu dulu saya rasa. Jadi kalau kembali lagi, sampai kapan? Nggak bisa ditebak sih. Kalau menurut saya sih, satu-satunya jalan adalah dengan melihat politik domestik Amerika. Itu saja.
Ya mas, menarik tadi mas ngomong soal eskalasinya sampai kapan juga kita nggak tahu. Berarti bisa disimpulkan juga, Iran juga tidak akan berhenti bereaksi gitu mas. Maksudnya dia tetap eskalasi juga?
Ya kalau menurut saya iya ya. Karena sekali lagi, apa yang terjadi sebetulnya sekarang, sebetulnya itu sudah dikemukakan oleh para pakar itu paling tidak ya. Kemudian militer Amerika. Militer Amerika atau khususnya Panglima Angkatan Bersenjatanya, Dan Cooper itu, eh Dan Cooper ya bener, Dan Cain. Sorry Dan Cain. Brad Cooper itu Komandan Centcom.
Dan Cain itu mengatakan bahwa senjata Amerika itu nggak cukup. Karena dia punya beberapa mandala. Di Eropa dia harus siap. Di selat Taiwan dia harus siap. Kemudian dia masih naruh di Korea. Kemudian dia masih naruh di Amerika Latin. Jadi nggak mungkin semua senjata Amerika dikirim ke Teluk. Dan itu sebetulnya sudah dikatakan oleh dia dari awal bahwa itu tidak memungkinkan. Apa namanya, untuk melakukan perang berkelanjutan.
Nah kemudian Iran sendiri juga sadar bahwa Amerika, kita sebetulnya kalau istilah saya ya, kita itu atau situasi ini sekarang ada dua jam. Dua jam itu maksudnya ada dua jam yang berjalan. Jam yang pertama adalah kalender atau jamnya Amerika, yang harus mencapai kemenangan politik paling tidak, karena itu terkait dengan domestik. Dan jamnya Iran atau kalender Iran. Dan Iran tahu betul bahwa Amerika itu terdesak dalam konteks domestik. Makanya dia akan menahan-nahan.
Itu yang saya duga. Itu yang saya lihat akan terjadi. Jadi Iran itu kasarnya tidak akan mengeluarkan senjatanya semua dulu. Sekarang kasarnya sudah menurun kan. Sekarang sudah menurun tapi kadang-kadang saja ada serangan ke kapal dan seterusnya. Tapi tidak terus-terusan. Karena dia sadar. Sekarang adu-adu kuat-kuat aja sekarang. Karena sekali lagi Amerika atau perang ini sudah ditekan oleh tekanan domestik. Khususnya di Kongres. Jadi makanya sekali lagi Iran itu akan menyesuaikan dengan situasi itu.
Tadi masnya bilang ada dua jam, ada jamnya Amerika sama jamnya Iran sendiri. Tapi kalau misalnya variabel lain, kemarin kan Eropa sempat bikin konferensi untuk semacam inisiatif melakukan patroli. Karena mereka juga yang paling terdampak di Eropa. Dan juga ada negara-negara teluk yang sampai sekarang itu belum benar-benar beraksi. Meskipun pada fase-fase awal kemarin diserang sama Iran. Kalau menurut mas, mereka apakah suatu variabel yang penting?
Selama ini kan perspektifnya cuma dari Iran sama Amerika Serikat sendiri. Kira-kira kalau misalnya memang Eropanya bergerak dan negara teluk, dari masnya sendiri negara teluk bagaimana?
Kalau saya melihat begini ya, kalau kita melihat kenapa faktor di luar Amerika dan Iran itu “tidak terlalu penting”. Karena khususnya seperti Eropa, Eropa sendiri itu tidak bisa bertindak karena dia tahu bahwa tindakan Amerika itu salah. Dia juga tahu tindakan Iran itu salah. Jadi artinya sebetulnya Iran tidak pernah pakai kartu Hormuz selama ini. Ini kan kartu baru yang dipakai oleh Iran. Walaupun sebetulnya para akademisi sudah pernah ngomong bahwa kalau Iran terdesak pasti pakai kartu Hormuz.
Nah masalahnya yang saya perhatikan kalau dalam konteks Eropa, Eropa itu kan negara yang normatif. Dia kalau mau terlibat itu kan harus ada alasan yang kuat. Dan sekarang alasan yang kuat itu sebetulnya bisa dibilang tidak ada. Karena apa saya bilang tidak ada? Karena yang salah bukan Iran doang, yang salah Amerika. Sedangkan dia itu kan takut, Eropa itu sebenarnya takut kalau Amerika benar-benar lepas tangan soal Ukraina sebetulnya. Jadi kalau dia menangani terlalu serius atau terlalu keras dalam kasus Hormuz, keras dalam arti terhadap Amerika ya, dia bilang tidak kepada Amerika, dia akan punya masalah di Ukraina.
Tapi di sisi lain dia juga tahu bahwa ini semua kan gara-gara Trump. Jadi Trump itu benar-benar melanggar hukum internasional sebetulnya, melakukan pembunuhan politik dan seterusnya itu, pembunuhan Khamenei dan segala macam itu sudah tidak pantas. Di sini makanya Eropa agak kesulitan untuk bergerak karena dia tidak punya landasan yang normatif.
Eropa itu kan negara yang normatif. Jadi misalnya dia terlibat di Afghanistan, itu karena pasal berapa NATO itu kan ya. One for all, all for one itu kan berlaku. Tapi kan memang Amerika diserang. Tapi kan dalam kasus ini kan tidak. Dalam kasus ini Amerika kan tidak diserang. Amerika yang menyerang. Jadi di sini yang saya bilang tadi. Jadi Eropa sulit bergerak. Mungkin akan, sekali lagi mungkin akan, tapi itu butuh koalisi internasional dan katanya 30 negara kan. 30 negara mau gabung untuk koalisi itu. Tapi kan itu juga tidak gampang kan.
Seperti contohnya aja dulu Bush, Presiden Bush yang pertama, waktu dia mau nyerang Irak itu, tahun 99 kalau saya nggak salah, dia butuh waktu 6 bulan loh. Karena kalau kita hitung serangan katakanlah tanggal 28 Februari, artinya 1 Maret, 6 bulan itu kan kira-kira masih bulan Agustus-September kan. Jadi itu harus nunggu itu. Artinya itu pembentukan koalisi. Maksudnya pembentukan koalisi itu tidak mudah. Karena sekali lagi negara-negara yang terlibat pasti akan memperhitungkan landasan hukum internasionalnya. Terutama negara seperti Eropa. Mereka tidak akan sembarangan. Itu kasus Eropa ya.
Kemudian kasus Teluk. Kalau kasus Teluk itu kalau menurut saya itu tiba-tiba mungkin Teluk sadar ya. Bahwa yang selama ini mereka tidak duga bahwa mereka itu sebetulnya lemah secara militer, itu mereka ternyata jadi sasaran empuknya Iran. Dan mereka itu takut, menurut saya, kalau menurut saya ya, mereka takut 100 persen terlibat karena mereka takut bahwa Iran itu all out nyerangnya. Kan sekarang bisa dibilang tidak all out. Nyerangnya yang pakai drone. Atau cuma 1-2 rudal. Tapi kan tidak all out.
Nah, kenapa negara Teluk takut? Karena selama ini negara Teluk itu menjual bahwa mereka itu negara safe haven. Ekonomi sekarang menjadi tempat MICE (Meetings, Incentives, Conferences, Exhibitions) itu kan. Convention segala macam itu. Kemudian banyak sekolah internasional termasuk universitas-universitas top Amerika ke Teluk segala macam. Itu kan yang mereka jual. Jadi sekali lagi, mereka itu takut nyerang habis-habisan karena akan mengakibatkan serangan Iran yang habis-habisan. Dan citra mereka sebagai safe haven habis dalam waktu semalam.
Dan pasti nggak ada lagi perusahaan atau sekolah yang mau pindah ke Teluk. Karena mereka melihat bahwa mereka itu ternyata sangat tergantung pada Amerika. Dan tergantung pada Amerika berarti jadi sasaran juga kan. Jadi itulah yang saya lihat itu kenapa dua kekuatan di luar Amerika, Iran, Israel ini adalah kekuatan yang tidak bisa bergerak. Karena kalkulasi mereka itu sangat lain. Jadi cara berpikir yang saya lihat tidak tepat adalah seolah-olah bahwa Eropa itu adalah sekutu Amerika.
Dalam kasus ini bukan. Dalam kasus ini mereka adalah aktor lain. Aktor yang sebetulnya tidak dilibatkan dari awal. Jadi mereka tidak punya sekali lagi tanggung jawab untuk terlibat. Mereka aja sekarang kesulitan secara ekonomi. Jadi mereka terpaksa harus berhitung untuk terlibat. Tapi sekali lagi saya tekankan bahwa masalah Eropa adalah bahwa mereka tidak punya landasan yang tepat untuk terlibat. Sedangkan masalah Teluk adalah takut pembalasan Iran yang all out dan sekali lagi citra negara Teluk sebagai safe haven hilang sudah dalam waktu semalam. Jadi itulah kenapa Eropa dan Teluk itu ragu-ragu terus ya karena itu tadi.
Makanya sekali lagi sekarang sebetulnya tergantung pada kalau menurut saya ini kan semua tergantung pada Amerika. Amerika itu tergantung pada individu yang namanya Trump. Dan Trump itu kan tidak peduli. Dan sekarang yang bisa menekan Trump hanya politik domestik kalau menurut saya.
Kami juga tertarik sih mas untuk tahu pandangan mas terkait dengan politik domestiknya Iran. Ini kan jadi mereka sejauh ini berhasil menggagalkan rencana. Kan ada isu tentang regime change segala macam dan itu udah gagal tentu aja. Karena yang naik juga katanya lebih radikal dari Khamenei. Amerika dan Barat kan mungkin pengen menetralisir Iran ya mas. Tapi attempt itu, percobaan itu gagal sekarang. Apakah mas melihat si Iran ini bakal jadi kekuatan yang bisa lebih kuat di masa mendatang setelah ini?
Nah yang pertama saya tambahin dulu ya. Ada istilah yang tidak tepat yaitu regime change. Nah yang terjadi di Iran itu tidak bukan regime change tapi change in the regime ya. Jadi itu dua hal yang berbeda. Kalau regime change itu artinya perubahan orientasi kebijakan luar negeri. Misalnya tadinya anti Amerika jadi pro Amerika. Itu yang namanya regime change. Jadi apa yang terjadi di Venezuela itu bukan regime change ya. Itu change in the regime. Pokoknya menurut sama Amerika titik boleh gitu aja. Tapi sebetulnya bukan regime change.
Nah yang terjadi di Iran itu betul. Yang justru sebetulnya sangat dicegah selama bertahun-tahun oleh para pakar atau para penasehat gedung putih ya supaya jangan membuat Iran itu makin ekstrim. Jadi yang terjadi sekarang kebalikan. Jadi sekarang sebetulnya yang terjadi adalah sama seperti Rusia terhadap Eropa. Selama ini kan Rusia berpikir bahwa Eropa pasti takut abis ini. Eh ternyata malahan gak makin keras kan. Nah ini yang terjadi juga dengan apa namanya Iran. Iran itu justru melahirkan sebuah regime yang makin keras. Makin keras terutama makin anti Amerika dan makin tidak percaya pada Amerika. Itu kata kuncinya. Karena diplomasi tidak akan berjalan tanpa trust ya. Dan itu yang sudah terjadi.
Kemudian apakah Iran mengancam negara tetangga? Kalau menurut saya dengan serangan selama kurang lebih hampir dua minggu ini secara militer Iran tidak mengancam sekali ya. Mengancam masih, tapi tidak mengancam sekali. Karena sekarang dia cuma tergantung pada drone. Pada drone itu yang sekali lagi sulit untuk dibasmi sementara ini. Kalau menggunakan senjata seperti rudal malah lebih gampang. Karena Amerika sudah siap bantuin perisai-perisai.
Mulai dari Iron Dome dan sebagainya mereka sudah siap. Tapi sialnya, dunia belum siap untuk menghadapi serangan drone. Makanya kan ironisnya negara teluk itu sekarang minta bantuan Ukraina. Beberapa ahli-ahli Ukraina datang ke teluk karena itu. Jadi kalau menjawab pertanyaan tadi apakah Iran sekarang makin mengancam? Kalau disebut makin mengancam itu saya rasa enggak juga ya. Secara militer sudah beda lah ancamannya.
Derajat ancamannya sudah bukan dalam arti militer, tapi dalam sikap keras iya. Saya percaya makin keras mereka makin tidak percaya kepada negara-negara sekitarnya dan khususnya untuk sementara ini kepada Amerika. Kita enggak tahu nanti abis ini Amerika siapa ya. Tapi itulah yang membuat kenapa Iran dalam hal ini secara militer itu tidak lagi mengancam seperti dulu tetapi dalam hal mungkin misalnya katakanlah melakukan infiltrasi-infiltrasi seperti yang justru dilakukan itu iya. Karena mereka makin keras. Kurang lebih seperti itu.
Berarti kemungkinan untuk misalkan ada prediksi Mojtaba Khamenei bakal diganti lewat protes massa dalam waktu satu tahun ini relatif enggak mungkin ya mas?
Kalau menurut saya sih enggak mungkin ya. Justru sekarang kan Mojtaba Khamenei ini kan sekarang kan dikelilingi oleh orang-orang garda revolusi yang garis keras dan sikap mereka itu terbukti benar. Selama ini kan orang sebetulnya pemimpin Iran bukan yang artinya pemerintahan itu kan bukan Khamenei tapi Pezeshkian. Dan Pezeshkian itu kemarin kan bikin semacam blunder gitu di mata elit politik Iran, pada intinya dia lembek lah katakanlah gitu ya. Dan sekarang itu tidak ya. Sekarang itu justru tindakan Trump itu dengan membunuh Khamenei dan kemudian melakukan serangan pada saat diplomasi itu kan justru membenarkan argumen mereka bahwa Amerika itu tidak bisa dipercaya.
Dia melakukan pembunuhan pada saat negosiasi kemudian melakukan serangan pada saat negosiasi. Jadi saya rasa orang-orang di sekitar Mojtaba Khamenei, kita enggak tahu ya Mojtaba Khamenei masih hidup atau tidak karena sampai hari ini kita tidak pernah dengar suaranya apalagi gambarnya, tapi yang pasti dia dikelilingi katanya oleh orang-orang yang garis keras. Dan sialnya sekali lagi sikap garis keras mereka itu terbukti benar. Sikap garis keras itu mereka benar. Yaitu bahwa jangan percaya kepada Amerika dan negara-negara teluk khususnya Arab Saudi karena kan salah satu pendorong serangan 28 Februari kabarnya kan MBS kan pangeran MBS. Jadi mereka makin tidak percaya.
Salah satu strategi Amerika kan dekapitasi pemimpin militernya di awal perang kemarin hari-hari pertama gitu. Dan di Irak sendiri banyak pemimpin sendiri sudah meninggal karena serangan Israel dan Amerika. Tapi faktanya sampai sekarang mereka juga untuk koordinasi serangan mungkin terfragmentasi tapi tetap berlanjut secara konsisten gitu. Tapi di sisi lain mereka juga ketika dilakukan gencatan senjata, masih bertahan gitu mas.
Jadi kayak saya melihat ada diskoneksi antara bilang kalau pemimpin Iran sekarang desentralisasi di tiap regionnya sendiri tapi di sisi lain juga ketika ada perintah dari atasan mereka juga menurut gitu. Apalagi kalau kita dibilang kalau dari revolusi itu ada yang ekstremis yang nggak mau nurutin diplomasi apa pun dengan Amerika tapi ada juga yang lebih moderat gitu. Tapi pada faktanya ketika terjadi kenjatan sejata ya mereka berhenti gitu. Itu apakah memang ada sistem khusus di desentralisasi Iran atau memang tetap ada pemimpin sentral yang masih dihormati oleh komandan-komandan regionalnya?
Nah, saya nggak pernah dengar nama seseorang yang menonjol ya. Jadi, apa namanya saya malah duga desentralisasi ini berjalan dengan sangat baik ya. Sangat baik dan kita tidak pernah tahu gimana cara mereka berkomunikasi karena mereka tahu bahwa Israel sudah menginfiltrasi sangat luar biasa mereka tidak bisa menggunakan alat-alat teknologi masa kini lah. Jadi, menurut saya desentralisasinya berhasil dan sekali lagi saya belum pernah mendengar ada nama tunggal atau nama beberapa orang yang menonjol dalam kasus ini. Kecuali, misalnya seperti Abbas Araghchi segala macam yang pergi ke Pakistan ya.
Itu kan diplomat-diplomat atau negosiator. Jadi mereka tuh kelihatan siapa. Tapi artinya, bukan mereka yang mengambil keputusan kan. Bukan mereka yang mengambil keputusan. Dan sebetulnya ya, saya minta maaf untuk mengatakan ya kalau mungkin buat orang-orang yang anti-Iran saya tahu banyak orang yang anti-Iran. Sebetulnya, apa yang Iran tawarkan di Pakistan itu sebenarnya rasional.
Iran itu kan sudah bersedia menghentikan pengayaan uranium kan. Mereka bersedia akan 3 sampai 5 tahun kalau saya nggak salah. Tapi Amerika mintanya 20 tahun kan. Dan tentu saja ditolak ya. Jadi sekali lagi, kalau menurut saya sekarang pihak Iran itu malah yang saya lihat lebih rasional ya. Menurut saya malah lebih bisa dipegang ya. Kalau menurut saya ini. Lebih prediktif lah dibanding Amerika. Karena Amerika coba, bayangkan, dalam sebuah perundingan mereka datang tidak jelas maunya apa, tiba-tiba naikin di tengah jalan gitu kan.
Itu kacau kan. Sebetulnya itu yang terjadi kenapa di Pakistan itu gagal sebetulnya gara-gara Amerika juga. Dan itulah repotnya kenapa begitu. Karena Amerika itu dalam diplomasinya itu tidak dipimpin oleh diplomat. Tapi oleh pengusaha real estate. Steve Witkoff dan Jared Kushner. Jadi cara berpikirnya bukan cara berpikir negosiasi soal nuklir. Dan lebih mengerikan adalah sekarang bahwa mereka tidak peduli soal hal teknis.
Kalau dulu kan Amerika mengirim negosiator itu disertai ilmuwan. Ilmuwan nuklir terutama. Jadi mereka ngerti apa yang harus dilakukan. Kalau sekarang enggak. Mereka cuma bicara soal untung rugi aja. Bener-bener cuma semata-mata hitam putih untung rugi. Tidak ada kalkulasi-kalkulasi teknis. Itu yang lebih mengerikan. Makanya kalau tadi dibilang Iran tampaknya rasional itu kalau menurut saya iya, karena mereka jelas.
Mereka berhasil dalam desentralisasi karena kepentingan mereka jelas. Itulah yang paling penting dalam negosiasi. Setahu saya, sejauh yang saya tahu paling penting itu adalah posisi kita itu apa. Kartu kita apa yang mau kita mainkan. Sedangkan Amerika itu enggak jelas. Amerika itu benar-benar menurut saya gila ya. Dan kalau kita ingat kemarin itu yang dikirim JD Vance. JD Vance itu kan sebetulnya orang yang “anti dengan kebijakan” Iran ini. Jadi dia enggak mau menggunakan serangan militer.
Jadi kalau saya nangkepnya dari situasi itu adalah bahwa Trump itu ngirim orang yang sebetulnya tidak bisa mengambil keputusan atau tidak boleh mengambil keputusan. Jadi orang yang tunduk kepada Trump. Dan itu yang bikin kacau lagi kan. Jadi sekali lagi kenapa desentralisasinya Iran lebih berhasil karena menurut saya definisi kepentingan mereka itu sangat jelas. Bahwa mereka itu enggak mau pengayaan uranium, atau mereka mau berhenti pengayaan uranium itu cuma lima tahun. Kemudian mereka tidak mau menyerah dan seterusnya.
Jadi artinya definisi mereka sangat jelas. Sedangkan Amerika disini tidak jelas. Makanya ini yang bikin kacau juga. Negosiasi sampai kapan juga enggak bakal berhasil kalau kayak gini. Enggak bakal jelas sampai kapan. Itu kalau menurut saya.
Tekanan dari Amerika datangnya dari domestik. Kalau Iran, dan ini juga berkaitan sama yang tadi beberapa variable di luar AS dan Iran sendiri, gimana dengan Cina? Dan kalau China itu mereka punya kepentingan juga minyak mereka sekitar 20-30% dari Iran. Dan mereka juga punya kepentingan secara regional disitu. Tapi sampai sekarang belum ada kabar keaktifan diplomasinya. Dan juga apakah disini ada variabel yang lebih penting disini Cina bisa menekan Iran secara diplomasi atau bagaimana?
Nah, banyak analis yang mengatakan ya kenapa peristiwa di Iran ini terjadi dan tanpa kontrol itu justru menunjukkan karena Rusia dan Cina itu tidak punya kekuatan apa-apa disitu. Jadi mereka itu ibaratnya itu cuma sebagai salah satu konsumennya Iran. Tapi merek bukan backingnya Iran.
Itu yang masalah. Kenapa? Makanya Amerika tampaknya bisa seenak-enaknya. Ini agak komparasi sedikit ya dengan kasus Ukraina. Rusia itu takut menggunakan senjata-senjata tertentu karena apa? Karena dia takut Eropa akan menggunakan senjata yang kurang lebih sama kuat. Jadi dia kalau kita lihat kan serangannya pakai drone, memang yang berlebihan adalah nyerang apartemen dan seluruhnya itu iya. Tapi dari segi persenjataan tidak maksimal. Nah, berbeda dengan Amerika sekarang kan. Amerika itu bisa dibilang seperti lepas kendali lah. Dia mau nyerang ini, serang.
Misalnya dia contoh yang paling gila itu kan sebetulnya kan jangan lupa itu kan pembunuhan Khamenei itu kan. Itu kan sebetulnya suatu hal yang sangat tidak lazim ya. Seorang pemimpin dibunuh itu sebetulnya tidak pantas. Itu kan pembunuhan politik. Sebetulnya itu gak boleh ya. Musuh boleh musuh tapi (pemimpin) tidak boleh diserang. Sama sebetulnya seperti Zelensky. Zelensky kan gak pernah diserang sama Rusia. Karena Rusia masih tahu batas.
Kalau (pembunuhan) Khamenei nggak tahu batas. Israel dan Amerika gak tahu batas. Pemimpin diserang itu kan sebetulnya sudah tidak pantas. Nah itulah kenapa bisa terjadi begitu justru itu yang menunjukkan bahwa Rusia dan Cina itu tidak hadir di Iran. Dia itu cuma salah satu konsumennya Iran aja. Salah satu konsumen dan ternyata dalam konteks persenjataan sumbangannya juga gak banyak kok.
Sumbangannya itu kan seperti istilahnya dual use ya. Dwi guna. Dual use itu kegunaan ganda. Jadi bukan end product. Jadi bukan senjata rudal atau apa tapi mungkin komponen-komponen. Beda misalnya dengan katakanlah contohnya adalah bagaimana Rusia dibantu oleh Shahed ya. Apa namanya drone itu. Itu kan itu namanya end product.
Nah Rusia dan Cina dalam kasus Iran itu tidak, sejauh yang saya tahu ya. Makanya kalau kemarin dibilang bahwa Cina membantu, tapi ternyata bukan end product. Kalau bukan end product emang banyak yang bantu. Dulu kan Israel juga bantu Iran jangan lupa itu. Karena sekali lagi kan produk senjata itu kan bisa dibeli di pasar bebas. Di manapun.
Jadi sekali lagi situasi di Iran itu justru makin menunjukkan bahwa Rusia dan Cina itu tidak punya tangan yang kuat di Teluk. Dia justru cuman jadi konsumen pentingnya Iran. Tapi kalau dibilang bahwa dia yang ngatur-ngatur itu tidak.
Karena sekali lagi kalau Rusia dan Cina kuat di Iran pasti Amerika nggak berani macam-macam. Itulah yang terjadi dalam kasus misalnya Suriah kan nggak habis-habisan Amerika kalau perang. Karena dia tahu di balik layar ada Rusia. Makanya dia kan sedikit-sedikit. Tapi kalau dalam kasus ini kan udah enggak. Bisa dibilang Amerika hitungannya bukan di Iran kok. Amerika hitungannya di dalam negeri kok. Dia takut apa namanya takut di Republikan makin jatuh dan seterusnya.
Hitungan Amerika cuma gitu sekarang. Jadi sekali lagi pada intinya adalah justru menunjukkan bahwa China dan Rusia itu tidak hadir maksimal di Iran. Dia cuma jadi salah satu penonton aja kalau menurut saya.
Tentang Sayap Kanan AS, Israel, dan Hungaria
Kita geser sedikit, tapi masih berhubungan. Misalkan kita lihat orientasi rezim di Amerika, orangnya Trump misalkan dia dikelilingi sama orang-orang konservatif, begitupun dengan Netanyahu. Nah pandangan-pandangan kanan ini sama eskalasi konflik ini apakah berhubungan erat mas?
Kalau menurut saya dalam kasus ini saya kok tidak melihat begitu ya. Rasa tidak suka orang-orang di sekeliling Trump itu pada Iran, ya, itu dari awal memang ada. Tapi bahwa serangan ini semata-mata atas dasar ketidaksukaan, itu saya justru melihat kok itu gak terlalu penting ya. Bukan variable penting ya. Karena sekali lagi ini kan sifatnya sesuatu yang dadakan. Bagaimana saya bisa ngomong begitu? Coba deh buka National Security Strategy nya Amerika November-Desember berapa bulan yang lalu.
Itu jelas-jelas dikatakan bahwa Amerika mau mundur dari Timur Tengah lho. Dari situ aja udah kelihatan. Yang saya selalu argumenkan bahwa Amerika tuh tidak ada rencana kalau mau ke Iran ini. Ini kesannya mendadak kok. Amerika tuh konsentrasinya ke Western Hemisphere. Ke Amerika Latin. Tapi bukan ke Iran. Itu jelas bisa dibaca di national security strategy. Makanya sampai dengan bulan Desember kita gak pernah terbayang bahwa akan ada perang ini. Dan kalau kita lihat national security strategy tuh sangat kanan. Nilai-nilai kanannya tuh sangat muncul di national security strategy.
Dan sekali lagi dia tidak menyebut spesifik Iran. Ini makanya menariknya kalau dibilang bahwa saya percaya bahwa ini bukan karena sayap kanannya. Ini karena faktor-faktor yang kita harus kaji ulang. Kita harus kaji nanti mungkin setelah selesai perang ini kita baru tahu.
Kenapa sih Trump itu bisa bikin keputusan dalam waktu hitungan minggu? Itu kan konyol sebetulnya. Jadi kalau kita lihat sebetulnya keputusan ini kan sifatnya mendadak. Itu setelah presentasinya Netanyahu ke Gedung Putih, sorry di Mar-a-Lago atau di Gedung Putih saya lupa ya. Waktu itu presentasinya dengan Direktur Mossad yaitu David Barnea. Dan orang-orang di sekitar Trump itu jelas bilang farcical. Artinya kocak lah terjemahan bebasnya lah. Gila ide-nya. Tapi ternyata terjadi benar kan. Amerika nyerang. Karena sekali lagi di Amerika berlaku, panglima tertinggi Presiden. Jadi mereka harus tunduk semua.
Tapi sekali lagi disitu yang saya mengatakan tadi saya malah curiga nggak ada pengaruh kanan tadi ya. Kalau benci iya, itu pasti. Itu nggak bisa dibantah. Tapi bahwa itu menjadi dasar serangan, enggak kok. Mungkin kalau Amerika punya kesempatan nyerangnya Greenland dulu. Karena dia benci banget sama Eropa kan. Orang-orang kanan itu kan benci banget sama Eropa. Tapi mereka tidak pernah menyebut Iran. Karena menurut mereka bukan itu sasaran mereka. Makanya sekali lagi kalau kita lihat kronologinya, Iran itu tanpa rencana. Nggak ada rencana menyerang Iran.
Sampai dengan presentasinya Netanyahu dan David Barnea, kira-kira bulan Februari pertengahan. Jadi itu suatu yang mengejutkan sebetulnya, serangan ini benar-benar mengejutkan. Dan tidak diduga sama sekali bahwa Amerika akan melakukan serangan seperti itu. Dan itu ada jawabannya lah, itu banyak jawabannya. Tapi singkatnya saja, kalau menurut saya dalam konteks sayap kanan tadi, dalam konteks Amerika terutama, itu sumbangannya lemah. Tapi kalau mereka benci, iya, itu tidak bisa dibantah. Itu betul. Tapi kalau bahwa itu karena mereka sayap kanan, itu tidak kalau menurut saya. Saya sih lebih mengatakan tegas tidak.
Kalau soal Israel sendiri, orang di sekeliling Netanyahu, apakah faktor kanan punya andil yang besar?
Nah, kalau menurut saya, semua ini kan sebetulnya, kalau saya sih mungkin agak conspiratorial, tapi ada kaitan satu sama lainnya. Netanyahu kan sedang diuber soal korupsi, kan? Bahkan terang-terangan kok, Trump minta Presiden Israel, Isaac Herzog, untuk mengampuni Netanyahu. Kalau menurut saya sih, waktu serangan 12 hari itu, Saya waktu itu sudah pernah ditanya dan saya bilang, akan terjadi perang lagi. Alasan saya sederhana saja. Kenapa? Karena Netanyahu lagi diuber korupsi. Kalau nggak ada perang, dia diuber.
Kalau saya alasannya sederhana. Dan ternyata benar-benar terjadi perang. Jadi apa namanya, kalau menurut saya bukan faktor strategis ya itungan dia. Itungan saya adalah faktor domestik. Yaitu kalau Israel damai, maka dia akan masuk ke pengadilan. Karena tuduhan korupsi. Dan itu ternyata terbukti. Waktu habis serangan 12 hari itu. Waktu Israel dan Amerika menyerang bersama itu. Saya bilang nggak bakal selesai. Karena sasarannya bukan itu. Jadi ini kesempatan gitu loh, supaya orang pada ngikutin Netanyahu. Karena mereka tahu, Iran pasti membalas. Iran tidak mungkin tidak membalas.
kan sudah obliterated. Sudah dihancurkan. Ternyata dia sekarang bilang, Iran bisa melakukan serangan rudal sampai Amerika. Itu kan konyol. Berarti artinya apa? Bukan perhitungan strategis. Itu menunjukkan sekali lagi, itu benar-benar personal. Saya lebih menyebutnya personal. Itulah kenapa saya selalu berargumen bahwa, bukan itu kok semua persoalannya. Persoalannya adalah personal-personal mereka ini. Dan sekali lagi saya tegakkan, saya berani menolak, bahwa itu bukan karena sayap kanan di Amerika, terutama, bukan.
Karena memang bahasan kayak gini jarang ya, Mas, soal faktor domestiknya. Yang setiap orang tahu adalah, kayaknya si Trump ini dibisikin sama misalkan orang namanya wakilnya segala macam, tapi ini lebih ke faktor domestik. Faktor pribadi.
Saya malah bantah. Wakilnya itu J.D. Vance anti-perang. Jadi dia anti-foreign intervention. Endless war. Dia udah nggak mau. Makanya salah satu orang yang mencegah Trump perang itu, tapi dia mengatakan bahwa, ya kalau Anda memutuskan, saya ikuti. Itu salah satunya ada J.D. Vance. Dan termasuk juga, orang-orang sekitarnya kebanyakan itu tidak menyetujui. Jadi mereka itu lebih ngikutin sebetulnya pandangan Panglima Angkatan Bersenjatanya, Dan Caine, mereka lebih dengar.
Jadi mereka, dari yang saya bilang, Dan Caine itu bilang, senjata Amerika nggak cukup kalau mau habis-habisan di Iran. Jadi saya percaya bahwa ini sangat personal. Dan beberapa orang itu ngomong, beberapa lingkaran Trump itu ngomong, bahwa Trump itu sudah di kepalanya sudah perang-perang-perang. Jadi di kepala dia sudah itu. Jadi percuma dinasehati. Dan itulah yang terjadi.
Sejauh ini Indonesia belum bersikap secara keras atau gimana itu mas?
Ya karena kita gimana ya, kalau menurut saya kita nggak bisa bersikap apa-apa ya. Kita jelas-jelas kita kan berada di kubunya Trump. Board of Peace itu kan kita menyatakan diri bahwa kita kan pasukannya Trump gitu kan. Gimana kita bisa menyelesaikan masalah ini ya. Buktinya, dua kapal kita aja nggak lewat-lewat kan. Itu kan bukti juga kan. Bahwa Iran itu menganggap kita musuh kan. Tapi Iran kayaknya sadar juga ya. Bahwa ini kan personal juga.
Ini kan masalah personal juga kan. Bahwa Presidennya tunduk kepada Trump, ya udahlah masalahnya personal. Maka sekali lagi Iran sejauh yang saya tahu dia tidak mengeluarkan narasi-narasi yang bermusuhan kepada Indonesia. Karena dia sadar juga bahwa publik Indonesia sebenarnya tidak anti Iran, dan anti Amerika kan. Anti BOP lah. Jadi kalau menurut saya ya susah menurut Indonesia sih. Menurut Indonesia sekali lagi tidak bisa diapa-apakan karena di satu sisi dia negara yang seharusnya berperan, tapi di sisi lain dia bagian gerbongnya Trump gitu kan.
Jelas-jelas gerbongnya Trump kan. Jadi makanya, ya pasti nggak bisa apa-apa. Udah pasti tuh. Udah pasti nggak bisa apa-apa. Karena sekali lagi Indonesia sama sekali tidak punya modalitas apapun untuk terlibat di kasus ini. Beda dengan katakanlah Pakistan ya. Pakistan kan kalau saya nggak salah, katanya pemimpinnya punya bisnis dengan Trump kan. Kemudian dia hubungannya cukup baik juga dengan Iran. Jadi akhirnya ya saya nggak tahu Pakistan itu ikut anggota BOP atau bukan? Iya anggota ya. Tapi kan dia bukan anggota yang penandatangan kan. Yang pertama penandatangan kan cuma Viktor Orban dan Prabowo. Jadi ya bener-bener dicap sebagai orangnya Trump gitu kan.
Tapi kalau Pakistan itu kan kasarnya masih dua kaki lah. Kurang lebih gitu ya. Jadi sekali lagi ya bisa dipahami lah kalau kenapa Indonesia tidak bisa apa-apa ya dalam kasus ini. Dan ini kan terbukti kan. Dua kapal Indonesia tidak bisa lepas dari Hormuz itu kan sebetulnya salah satu indikasi yang sangat jelas, dan tidak terbantahkan, bahwa Indonesia dianggap musuh. Suka atau tidak suka kita harus ngomong begitu ya. Cuma dua kapal kok susah keluar
Satu minggu yang lalu. Sekitar satu minggu yang lalu Trump itu ngirim Vance juga untuk ke Hungaria ya mas. Secara terbuka mendukung si Orban itu kan yang akhirnya kalah. Nah kira-kira apa nih mas signifikansinya? Tentu aja Hungaria ganti ke Magyar, dan apakah mereka akan bersikap lebih frontal ke Ukraina juga?
Kalau setahu saya, saya ngebacanya bukan begitu ya. Apa namanya justru Vance itu dikirim ke Hungaria itu bagian dari pertarungan domestik Amerika. Jadi, apa namanya Amerika atau Trump itu atau termasuk Rubio itu sadar bahwa Orban itu tidak populer. Lalu dia malah dikirim ke sana si Vance itu.
Jadi sebetulnya itu kan seperti kartu mati gitu loh. Ngirim ke tempat yang sudah pasti kalah gitu loh. Jadi itu bukan sesuatu yang justru bukan sesuatu hal yang mengejutkan. Kalau kita melihat, bahwa Amerika ini kan sekarang sebetulnya sedang persiapan untuk pemilu presiden yang berikut kan tahun 2028 kalau saya nggak salah.
Dan calonnya kemungkinan besar kan Rubio dan Vance. Vance ini sekali lagi tampaknya sudah mulai dibenci oleh Trump. Sama kayak wapresnya negara lain gitu lah yang nggak disukai dan mulai disingkir-singkirin gitu. Nah ini udah terjadi sebetulnya. Vance Itu dia dikirim ke tempat yang sudah pasti kalah. Dari awal kan Orban nggak populer sebetulnya, karena beberapa kebijakan yang anti-Eropa.
Sedangkan Hungaria kepingin supaya Hungaria menjadi anggota Eropa karena dianggap lebih makmur dan seterusnya. Jadi bukan faktor Ukrainanya kalau menurut saya. Ini faktor pertarungan domestik. Dan menariknya kita tahu kan hasilnya kan itu sebetulnya mempermalukan Vance. Dia datang ke tempat orang kalah gitu kan. Memuja-muja orang kalah gitu kan. Nah itulah yang terjadi. Kalau saya sih melihatnya bagian pertarungan domestik Amerika ya, persiapan pemilihan presiden. Karena setahu saya Trump itu mulai nggak suka kepada Vance.
Berarti sejauh ini kesimpulan obrolan kita, Amerika tuh kalau ada pertarungan domestik efeknya kemana-mana ya mas?
Wah sangat ya. Amerika sekarang ini kan kita repotnya semuanya kan sebetulnya dasarnya domestik ya. Amerika kalah di Vietnam juga bukan gara-gara kalah perang kan. Kalahnya kan di Capitol Hill. Itulah sebuah risiko negara demokratis ya. Sebetulnya disatu situ mencerminkan negara demokrasi kan. Yang menentukan kan publik kan. Lewat wakil rakyatnya yang kuat. Sebetulnya kan itu kan.
Yang sebetulnya suka atau tidak suka, salah atau tidak salah, ya kita tetap harus belajar sih dari Amerika sih. Karena dia berbuat apa aja, ternyata wakil rakyatnya masih tetap kuat. Walaupun Amerika sekarang katanya tidak demokratis atau apa. Kalau buat saya sih sekarang menariknya adalah bahwa yang bisa mengkontrol Trump itu cuman apa namanya harga gas di pom bensin Amerika kok. Harga bensin. Mereka ngeliat kok udah naik sekian nol koma sekian dolar ya. Itulah yang akan menjatuhkan Trump. Bukan berapa pesawat Amerika yang bisa jatuh lagi. Udah susah dijatuhkan pesawat Amerika kok.
Kemarin satu orang aja bisa diselamatin ya, di tengah gurun Irak. Jadi sekali lagi sekarang sebetulnya, internasional sangat menunggu pada publik Amerika ya. Terjadi perubahan kebijakan Trump itu menurut saya cuman domestik sih. Nggak bakal berubah Amerika. Dari tekanan internasional nggak bakal berubah. Kesan saya sih udah nggak peduli soal itu ya. Bener-bener nggak peduli. Dia kan hitungannya cuman kerugian domestik aja. Terutama dia takut Republikan ini kan. Menjelang midterm election ini kan gawat buat Republikan.
Tapi kalau saya bisa bilang juga ini kan udah ada demonstrasi ya mas. Yang delapan juta orang yang No Kings terhadap si Trump itu. Tetapi efeknya masih sejauh ini masih agak minim gitu mas.
Ya itulah, karena sekali lagi Republikan itu masih berada di belakang Trump. Jadi Republikan itu tidak berani all out menentang Trump. Itu yang harus kita ingat. Walaupun katanya pendukung No Kings itu itu banyak Republikan. Tapi sekali lagi kaum Republikan ini kan banyak yang naik karena dukungan Trump kan.
GOP atau Partai Republik itu kan partainya Trump. Beberapa makanya yang mau berbalik terhadap Trump, mau berbalik musuhan terhadap Trump. Seperti Marjorie Greene misalnya. Itu kan dia mundur dari Kongres. Karena dia tau dia bakal diserang habis-habisan. Termasuk ancaman fisik. Beberapa orang Republikan yang mau nyerang Trump itu mundur dulu. Dan dia bilang tidak akan ikut pemilu. Makanya dia berani mundur.
Makanya sekali lagi. Kenapa sementara ini, penentangan terhadap Trump itu “percuma” karena Republikan masih berada di belakang Trump.
Tapi kan kita nggak tahu nih kalau abis tanggal 1 Mei ini, nggak tahu ya bagaimana pergeserannya. Dan kemudian kita sekali lagi juga nggak tahu apakah Trump akan memperpanjang perang ini. Itu kan sudah 60 hari kalau saya nggak salah. Dan setelah 60 hari itu harus lapor Kongres. Nah itu kita nggak tahu. Makanya sekali lagi kita tunggu tanggal 1 Mei untuk melihat perkembangan kebijakan Trump.
Terutama Republikan. Karena setahu saya sejumlah kaum Republikan sudah mulai ngomong. Batasnya cuma 1 Mei. Habis 1 Mei saya merasa itu sudah pelanggaran konstitusi. Bahwa Presiden Amerika mengirim pasukan tanpa izin Kongres. Jadi mereka mulai takut. Nah itu kita makanya sekali lagi tunggu 1 Mei. 1 Mei terutama kita melihat bagaimana kebijakan Trump dan kemudian yang diikuti oleh bagaimana kebijakan Republikan.
Pragmatisme Kedaulatan Indonesia
Satu minggu yang lalu ada Menteri Pertahanan dari negara kita juga Mas ke sana. Ini mungkin closed door gitu ya. Katanya mau lewat jalur pesawatnya itu dikasih ke wilayah udara kita gitu Mas.Nah apakah ini bentuk yang tadi Mas bilang juga sebagai kita ada di gerbongnya si Trump itu?
Nah saya minta maaf ya. Saya berbeda pandangan dengan pandangan-pandangan di luar yang sangat menentang. Kalau saya sangat mendukung. Jujur aja sangat mendukung. Kenapa? Terutama saya makin kuat dukungan saya beberapa hari yang lalu. Kalau saya nggak salah tanggal 22 April.
Ada sebuah berita bahwa Cina itu bikin bikin pangkalan di konfliknya dengan Vietnam. Di Laut Cina Selatan. Nah saya melihat, banyak orang yang komentar-komentar. Terutama yang anti ya. Saya minta maaf untuk mengatakannya. Ini kan negara demokrasi kan. Siapa pun boleh nentang. Tapi saya sekali lagi mendukung. Apa namanya? Sudut pandangnya berdasarkan kedaulatan. Itu tidak salah. Sekali lagi sama sekali tidak salah. Cuma yang saya sangat sayangkan pandangan-pandangan yang dalam arti strategis militer, itu tidak ada, yang fair.
Saya kemarin ada yang nanya, dan saya bilang jangan lupa loh, yang punya kerja sama militer itu bukan cuman Indonesia, salah satu berikutnya ya. Filipina sudah punya dengan Amerika. Dan kenapa Filipina maju duluan? Karena dia merasa terancam dengan Cina. Itu poin yang paling penting. Dia sudah punya kerjasama dengan Amerika-Jepang kemudian dengan Jepang-Australia.
Itu Filipina sudah buka duluan. Nah Indonesia selama ini kalau menurut saya Indonesia itu selalu apa namanya? Merasa diri bahwa kita itu bisa bertindak dengan bebas aktif. Inilah apa namanya yang menurut saya nggak tepat. Kita itu sebenarnya sudah dalam ancaman kedaulatan, paling tidak kedaulatan laut. Kenapa kita nggak pernah melakukan tindakan yang riil untuk menangani itu? Jadi menurut saya kalau Indonesia nanti kerja sama membuka ruang udara pada Amerika, kalau menurut saya itu salah satu alat bargaining kita ya. Suka atau tidak suka.
Saya nggak mau berdebat soal hukum. Saya nggak menguasai hukum. Tapi itulah kalkulasi strategis bahwa kita tidak mampu. Karena sekali lagi, Vietnam itu pasti sekarang mereka sadar mereka dekat Amerika. Kenapa? Karena itu di lepas pantainya. Tapi dibikin itu. Dikuasai oleh Cina. Dan itu mengerikan.
Itu yang gak dilihat oleh publik secara umum. Kita melihatnya cuma secara hukum internasional lah, itu pelanggaran kedaulatan. Nah sekarang kita menghadapi sesuatu yang riil juga ya. Kedaulatan kita juga terancam. Sudah berkali-kali ya. Kalau saya rasa setahun atau dua tahun terakhir ini aja agak sepi kan Laut Cina Selatan dalam konteks Indonesia ya.
Dalam konteks Indonesia agak sepi. Tapi itu kan sudah terjadi. Itu Vietnam. Kemudian terjadi juga di Filipina. Lalu kita diem aja? Kita masih sibuk menjual kata-kata bebas aktif? Yang diterjemahkan oleh publik sebagai tidak berpihak? Sekali lagi saya minta maaf saya berada dalam gerbong yang mendukung. Karena pertimbangan saya sih strategis aja. Di sekeliling kita udah gawat kok keadaannya. Cina punya pangkalan di Kamboja. Kita nggak bisa apa-apa. Kemudian kita nggak bisa apa-apa di Myanmar.
Ya kita seharusnya bertindak riil dan menurut saya pelanggaran kedaulatan, atau penjualan kedaulatan, itu ya terpaksa ya. Kita tidak punya pilihan. Yang penting kalau menurut saya bikin kesepakatan yang ada batas waktunya lah. Ada batas waktunya jadi kalau ternyata kita sudah tidak merasa terancam ya tarik gitu. Ada itu. Harus dibikin klausa seperti itu.
Jadi itulah yang bikin. Jadi artinya kita tidak menjual 100% lah kedaulatan udara. Tapi intinya adalah kita itu sedang berhadapan dengan situasi ancaman terhadap kedaulatan di lautan dan kedaulatan di udara. Dan saya lebih milih hilangnya kedaulatan di udara. Karena apa? Karena kalau kedaulatan di lautan itu yang menjadi korban langsung nelayan Indonesia. Dan itu sudah terbukti.
Sejauh ini yang kedaulatan di udara kita cuman kehilangan dari Amerika. Nelayan kita gak kehilangan apa-apa di udara. Itu jadi alasan saya. Jadi kenapa kita menurut saya gak tepat kalau kita cuman berdebat sekedar kehilangan kedaulatan sementara di depan kita sebetulnya sudah ada ancaman yang riil.
Itu yang menurut saya, itu poin yang dilupakan. Saya tidak mengatakan kita harus percaya 100% terhadap New York Times ya. Tapi fakta-faktanya sudah bicara kok. Beberapa bulan yang lalu Filipina. Kemudian ini Vietnam. Jadi sebetulnya, terlepas dari berita di Vietnam ini sudah ada ancaman lah di Laut Cina Selatan. Dan sekali lagi ASEAN tidak bisa berbuat apa-apa. Sama sekali dia tidak berbuat apa-apa.
Jadi menurut saya daripada kita sok menolak kerjasama dengan Amerika itu, ya kita lebih baik terus terang aja harus bagaimana. Itulah poin yang menurut saya Saya selalu, udah beberapa waktu seminggu lalu saya juga ditanya, saya bilang saya sih alasan saya itu sih. Jadi artinya saya bukannya cuman sekedar konspiratorial gitu kan.
Udah ada kok datanya tentang Filipina, udah terbuka lah. Itu kan jelas ada. Kalau mau dibuka lagi berapa bulan yang lalu Laut Natuna Utara juga terancam. Itu kan riil. Itu bukan konspiratorial. Itu yang menurut saya yang harusnya disebarkan juga ke publik, supaya tidak segampang itu mengorbankan kedaulatan udara. Ada hal yang lebih penting kalau menurut saya di depan mata yang harus ditangani.
Sangat masuk akal sih mas, karena Filipina aja yang notabene punya pangkalan udaranya Amerika, kemarin saya baca wilayah lautnya itu ditaburi sianida sama China gitu.
Saya gak ngerti. Saya gak ngerti loh, bener loh. Makanya narasi yang beredar itu cuma sekedar pelanggaran kedaulatan udara. Dan kesan saya itu satu, kita itu seolah-olah kita orang kuat. Kita itu seolah-olah punya bargaining gitu. Kita kan sekarang sebetulnya dalam keadaan tidak bisa menolak Amerika, sekaligus juga tidak bisa menolak China. Jadi kan kita harus milih dua-duanya kalau menurut saya. Kita harus menolak dua-duanya dan kita harus milih dua-duanya kalau menurut saya. Nolak itu artinya kita bikin pangkalan udara, kita bikin pangkalan laut. Itulah, itu kalau menolak.
Jadi artinya kita jangan tahu lah kalau menurut saya, kita cuma menolak-nolak tapi kita gak berpikir implikasi ke depannya lebih mengerikan. Itulah yang sebetulnya saya khawatir. Saya paling tidak ya dalam dua hari ini, saya tidak melihat berita itu di media-media di Indonesia. Jadi beritanya cuma soal kedaulatan udara itu tadi yang dipermasalahkan. Tapi kenapa orang lupa tentang Laut Cina Selatan? Itu yang saya gak ngerti.
Tapi ini kan sebetulnya korbannya ASEAN kan. Saya pernah bikin tulisan dari Kompas tentang itu kan, tentang sentralitas ASEAN kan. Hilang sudah ASEAN. ASEAN hilang sudah sekarang. Sorry to say, hilang.
Mas, tapi apakah misalkan kita kerjasama sama Amerika. Kita kerjasama dengan misalkan membuka ruang udara gitu, tapi di satu sisi kita mengecam Amerika. Itu kan manifestasi bebas aktif kan, Mas?
Nah, itu dia. Saya sebetulnya, minta maaf ya, saya nggak bisa buka ya, karena ini salah satu bahan Icon IR saya nih. Mereinterpretasi bebas aktif. Ada lah, pakai teori. Jadi, pada intinya sih gini sih.
Jadi, cara pandang kita bebas aktif itu kan lahir dari tahun 1948. Uni Soviet-Amerika. Dua pihak. Itu yang sekarang tidak terjadi kan. Kalau dua pihak kan, saya nggak suka sama Anda, yaudah saya pindah sana dong. Atau, sorry, ada dua pihak misalnya A dan B. Saya nggak suka sama A ya, saya pilih B kan. Saya nggak suka B, saya pilih A. Atau, saya nggak mau A dan B. Kurang lebih gitu kan.
Sekarang kan konteksnya beda. Sekarang ada ABCDE. Dan kita, ABCDE ini kekuatan-kekuatan yang tidak bisa kita nafikan ya, yang kita harus terima. Yang kita lebih banyak semuanya, yang kita pilih. Esensinya saya, kemarin saya ada presentasi di kampus tuh. Kalau mau cari, ada kok di Youtube-nya. Nggak bisa kita pilih-pilih, jangan sok tau kita. Emang sekarang kita bisa mengatakan tidak pada A dan iya pada B? Atau tidak A tidak B? Ya nggak, kita semua aja kita pilih.
Tapi bukannya kalau misalkan kita membuka peluang sama semua hal gitu, semua negara, apakah itu tidak membuat kita tersandera, Mas?
Justru kalau kita membuka peluang pada semua negara, kita tidak tersandera. Kalau menurut saya logikanya kebalik. Kalau kita membuka peluang pada satu kekuatan, kita tersandera pada kekuatan itu. Kalau saya nggak suka sama Amerika, saya punya Eropa kok. Kalau saya nggak suka sama Eropa, saya punya Amerika kok. Kalau saya nggak suka sama Amerika, saya punya Cina, kan itu tidak tersandera. Justru kita tidak tersandera itu. Kan itu logikanya.
Ditarik-tarik banyak kepentingan gitu nggak, Mas?
Ya justru kan, kita tanpa adanya itu pun sudah ditarik-tarik. Jadi itulah tadi sebetulnya cara berpikir kita yang menurut saya salah. Kita tuh merasa diri kita besar. Kita seolah-olah kita punya pilihan gitu. Padahal kita nggak punya pilihan. Itu dia yang saya sebel, gitu. Kita tuh merasa diri kita besar. Kita seolah-olah punya pilihan gitu.
Kita tuh nggak punya pilihan. Lebih baik kita tuh, dan yang saya tekankan ya, berapa kali, kita harus terbuka. Sama seperti yang argumen saya tentang polyamorous itu. justru itu ide dasarnya, supaya kita tidak tersandera.
Ide dari polyamorous itu adalah, itu ide perkawinan ya minta maaf ya, itu kan tidak tersandera. Kalau kita pada cuman satu atau dua, kita tersandera. Itu justru ide dasarnya. Kebalik malah.
Ini logika yang sama dengan omni-enmeshment nggak, Mas?
Ya mungkin ya. Tapi saya merasa omni-enmeshment itu kan saya tidak melihat dasar teorinya apa ya. Jadi itu cuman pengembangan dari, apa namanya istilahnya? Yang multi-multi itu apa sih? Multi-alignment kan, sama. Itu kan sama. Sebetulnya cuman dari perkembangan itu. Saya berusaha menawarkan yang berbeda, kata-kata itu kan. Bukan dari alignment, tapi saya menawarkannya dari perkawinan. Dan itu ada praktek itu ya.
Saya kutip juga dari, sebetulnya saya belajar dari New York Times juga soal itu kan. Fenomena itu. Jadi apa namanya, saya agak berbeda dalam konteks, kalau bilang alignment itu kan dalam tanda petik kita belum jelas ikatannya. Tapi kalau polyamorous itu, kita ada ikatan. Masing-masing kita ikat dengan ini, kita ikat dengan itu. Jadi itu poinnya sih.
Esensinya itu. Tapi sekali lagi, esensinya yang kita tidak boleh lupa adalah bahwa kita tuh selalu merasa diri kuat. Kita selalu merasa diri besar, dan kita selalu merasa punya pilihan. Padahal kita nggak punya pilihan. Itu yang kita harus jujur dan mengatakan. Makanya tolong dikampanyekan itu, supaya publik tahu tidak cuma bilang bebas aktif itu artinya tidak berpihak. Bebas aktif itu artinya bebas berpihak kepada siapa saja.
Ada unsur realismenya ya Mas?
Justru itu kan realisme dalam arti realistis ya. Realisme dalam arti realistis iya. Tapi kalau itu teori realisme dalam HI, saya nggak tahu dimana letak realistisnya. Saya kadang-kadang kalau saya pakai istilah kemarin sama Mas Idil itu realistisis. Jadi realistis.
Bukan realis dalam arti HI. Karena kalau realis dalam arti HI kan lebih kepada asumsinya misalnya state-centric. Tapi kan bukan tindakannya rasionalnya itu. Realisme itu. Bukan berdasarkan realisnya itu. Kalau saya mengambil dari kata realistis. Realistik.
Mas, kan dulu kita sempat ngomong di kantornya mas, di ruangannya mas kalau salah satu yang kajian di Indonesia yang kurang difokuskan tuh ke arah ketahanan pangan sama ketahanan energi. Tadi mas juga sempat bilang kalau Indonesia lebih banyak ke arahnya tuh harus berdikari gitu.
Termasuk salah satunya itu yang penjagaan bebas aktif. Tapi kan setelah ada kejadian di Selat Hormuz ini ternyata kita gak punya leverage untuk apa ya, kita masih ada ketergantungan minyak. Kalau ketergantungan gimana saya kurang tahu.
Cuma ketergantungan minyaknya sempat disorot kemarin di tanker-tanker Pertamina itu. Dan di situ diplomasi Indonesia berhasil tapi masih abu-abu gitu. Dari mas, gimana? Apakah apa yang bisa disorot dari ketahanan pangan sama energi Indonesia ketika ini kejadian di Selat Hormuz ini lalu kemarin juga sempatnya isu kenaikan bensin yang akhirnya saya yang pertamax sama pertalite kenaikannya lumayan tinggi drastis gitu. Kalau menurut mas bagaimana?
Ya kalau menurut saya kita tuh sudah tidak punya ketahanan soal itu ya. Kita tuh yang ada ketergantungan udah bukan ketahanan. Kita mau apa aja kita sama sekali udah gak punya ketahanan. Kita ketahanan energi. Ketahanan energi itu maksudnya adalah bahwa kita bisa bertahan selama 28 hari. Itu kan bukan ketahanan kan. Itu kan udah apa itu? Apa namanya? Saya gak tahu. Kita sama sekali gak punya ketahanan kok. Apa namanya? Sama sekali gak punya.
Terus pangan. Kita juga gak punya ketahanan pangan. Kita impor kan.Contoh kita impor kedele. Kalau kedelai gak ada kita gak bisa bikin tempe sama tahu. Jadi sebetulnya kita gak punya ketahanan. Jadi kalau kita bicara ketahanan kayaknya kita udah gak relevan kalau bicara Indonesia. Itu mengerikannya di situ. Dan itu kan sebetulnya kesalahan dari rezim-rezim sebelumnya kan.
Yang apa namanya? Kita tidak pernah serius soal itu kan. Terutama soal pertama, soal ketahanan energi. Contoh paling kasus terakhir adalah kita tidak punya kilang minyak. Itu aja udah konyol. Kemudian contoh juga. Apa namanya? Kita pernah jadi anggota OPEC. Tapi kita pengimpor BBM loh. Jangan lupa loh. Kita kan cuman pengekspor minyak mentah.
Tapi jangan lupa. Kita tuh pengimpor BBM, dari Singapura pula. Kan itu salah satu contoh. Kita gak punya refinery. Jadi sebetulnya kita dari awal gak punya ketahanan. Bohong kalau kita bilang.
Kita tuh rada-rada ditipu menurut saya publik kita. Seolah-olah kita karena kita anggota OPEC. Waktu itu ya, kan sekarang udah keluar ya. Sudah bukan anggota OPEC ya. Waktu kita jadi anggota OPEC berarti kendaraan kita pakai bensinnya Indonesia. Ya enggak. Itu bensin yang kita pergunakan bensinnya Singapura kok.
Kita kan cuman bisa mengekspor minas. Minyak Indonesia waktu itu namanya Minas.Tapi kita belinya. Kendaraan-kendaraan yang kita pergunakan bukan jalan karena minyak kita loh. Itu BBM itu produk jadinya minyak. Yang kita jual kan namanya crude oil. Sedangkan yang kita pergunakan itu BBM. Saya lupa. Bahasa Inggrisnya apa tuh BBM tuh? Apa namanya? Itu kan beda. Jadi dua hal yang berbeda.
Itu yang kita lupa. Makanya yang saya tekankan kita gak punya ketahanan dari awal. Ketahanan kita itu ya itu tadi cuman 28 hari. Itu kok bukan ketahanan ya? Orang Jepang aja 200 hari kalau saya gak salah kan? Kemarin mereka siap 200 hari.
Terus kemudian pangan. Kita kan pengimpor bahan-bahan baku untuk pangan kan? Apa namanya? Termasuk Kedele. Kemudian jangan lupa garam. Tapi kan kita harus mengimpor loh garam tuh. Jadi kita gak punya ketahanan. Kita mengerikan, dan itu sekali lagi. Publik Indonesia kan agak-agak tidak dibuka soal itu kan? Agak tertipu lah paling tidak lah. Dan kita disini yang menurut saya kurang cerdas.
Sebagai orang terpelajar kita tidak melihat itu. Bahwa kita tuh tidak punya ketahanan apapun. Termasuk jangan lupa, kita itu kan pengekspor pakaian jadi kan? Tapi jangan lupa bahan tekstil yang untuk di sutra atau apanya itu kan bahannya dari Australia. Dari domba Australia. Saya lupa. Tapi sekali lagi kita tidak punya produk yang merupakan produk dari dalam negeri Indonesia.
Itu gak punya. Itu yang mengerikan sebetulnya. Termasuk yang jangan lupa, yang mungkin paling sederhana yang kita bisa rasakan adalah durian. Durian kita kan durian monthong dari Thailand. Kemudian kalau kita lihat Apel, Apel kita kan Apple Washington yang terkenal dan seterusnya di supermarket. Bukan Apel Malang kan? Nah itu yang kita harus sadar kan? Sebetulnya itu mengerikan.
Makanya kalau dibilang ketahanan, apa itu ketahanan buat Indonesia? Saya rasa gak punya itu ketahanannya. Itu yang mengerikan, menurut saya itu mengerikan. Yang sebetulnya kasus ini sebetulnya kita harusnya belajar.
Bahwa kita itu harus membangun ketahanan itu. Paling tidak kita harus menyiapkan katakanlah seperti Amerika sebelum seperti Amerika sebelum tahun berapa ya? Amerika kan punya yang namanya SPR. Strategic Petroleum Reserve. Tanki-tanki buat nyimpen minyak impornya dia.
Itu yang harusnya dilakukan. Kita kan tidak pernah begitu. Kenapa? Masalahnya korupsi. Itu masalah yang sebesar-besarnya. Termasuk kenapa kita harus impor produk pertanian? Karena rent-seeking activity. Karena sekali lagi, importer untung kan dengan impor kan? Makanya itu sengaja dimatikan.
Kita misalnya karena dilemahkan kan? Kita harus impor beras. Kesannya kita gak punya sawah kan? Nah itulah contoh. Jadi masalah kita sebenarnya adalah korupsi dan rent-seeking activity tadi. Kalau menggunakan bahasa yang dipopulerkan oleh Faisal Basri sebetulnya udah lama ini rent-seeking activity. Jadi kita kenapa impor? Karena itu menguntungkan importer.
Itu yang poin pentingnya. Jadi kalau bilang ketahanan, saya malah ragu-ragu apa itu ketahanan ya? Apakah 28 hari itu ketahanan? Saya rasa bukan ya.
Budaya Berbeda Pandangan
Mungkin ini masalah saya melihatnya ini masalah rezim hari ini ya. Jadi kayak di atas itu udah “pak aman aja pak, aman aja pak.” Tapi yang bawah ini rasanya menderita banget gitu ya mas.
Ya kalau menurut saya kan ini yang terjadi sebetulnya di semua negara ya. Esensi dari politik itu kan mengorbankan rakyat kalau menurut saya. Yang juga tidak boleh lupa ya, termasuk di Amerika. Apalagi seperti Trump ini kan. Dia buktinya kemarin ada insider trading soal ini.
Dia dapat untung dari permainan saham. Jadi menurut saya itulah masalah di dunia. Kita jadi korban kan yang di bawah ini kan. Kemudian lebih parah lagi adalah bahwa yang melaporkan asal Bapak Senang gitu kan. Yes men semua. Ya itulah makin repot.
Ya susah lah kalau kita berubah ini. Tapi sekali lagi, kita juga tidak bisa begitu karena repotnya, data-data kita sendiri termasuk saya mengkritik diri sendiri juga, data-datanya seringkali tidak kuat kan. Data-data yang seringkali tidak kuat dalam arti benar-benar hitam di atas putihnya segala macam kan tidak kuat kan.
Argumen-argumennya seringkali disebut sebagai argumen politis. Argumen politis kan cuma suka tidak suka. Jadi memang kita kalau menurut saya, kita harus mengkritik diri sendiri ya. Terutama buat para pelajar HI atau politik. Bahwa kita harus didukung oleh data-data yang hitam di atas putih. Seringkali argumen kita adalah argumen politis.
Argumen politis seringkali disebut sebagai soal suka atau tidak suka. Itu sih masalahnya sih kalau menurut saya. Ini kan pelajaran, kasus ini kan pelajaran. Dalam beberapa tahun belakangan ini kita belajar terutama juga dari Trump itu kan naik karena ngebohongin orang. Dan ngebohongin orang kenapa berhasil? Karena literasinya rendah. Kata kuncinya itu.
Orang Amerika, bayangin Amerika juga bisa dibohongin sampai Trump itu naik. Kurang apa juga penipunya Trump itu. Berapa kasusnya dia kan udah di pengadilan. Tapi orang masih percaya sama dia. Kan itu kalau menurut saya soal literasi ya. Jadi menurut saya pelajaran buat kita adalah sekarang kita harus meningkatkan literasi. Apapun itu ya. Apapun itu kita harus meningkatkan literasi.
Dan contoh paling konkretnya Amerika sih. Itu yang paling bener-bener menurut saya, saya nggak ngerti loh bener-bener orang bisa tertipu. Dan satu hari saya beberapa hari baru seminggu atau dua minggu yang lalu ngobrol dengan orang dari Amerika. Dia mendukung Trump. Dan salah satu alasannya adalah kenapa? Karena dia merasa di bawah Trump itu relatif aman. Terutama karena, dan ini yang saya kagetnya setengah mati adalah dia percaya bahwa kejahatan itu karena imigran.
Dan itulah menurut saya kenapa cara berpikir itu bisa keluar. Karena orang tidak tahu politik. Jadi orang itu cuman melihat oh saya aman di jalan gara-gara ada seorang Trump. Ya kan nggak bisa. Politik itu menyangkut beberapa aspek. Ekonomi, kejahatan jalanan dan seterusnya itu semua berantai.
Atau seperti contoh gini, orang yang tidak tahu politik. Dulu waktu saya pernah di Jerman orang-orang Jerman kalau saya lihat mereka tuh kaget dengan fenomena imigran. Itu yang saya tangkap. Mereka tuh kaget bahwa orang itu bisa hidup di tenda. Begitu saking terpaksanya hidup di tenda di Jerman itu lebih enak daripada hidup di negara mereka yang perang. Mereka shock loh.
Kenapa? Karena mereka selama ini mereka tuh hidup, kalau saya ahli dalam satu bidang, itu bidang aja bidang itu aja yang saya kuasai. Yang lain nggak usah. Padahal kan itu esensi dari ilmu sosial dan politik. Kita kan tahu bahwa semua berantai akibatnya. Itu yang saya lihat. Jadi mereka tuh kaget bahwa ada orang yang bisa hidup di tenda.
Jadi yang namanya homeless people itu buat mereka tuh suatu fenomena yang sangat mengejutkan. Dan hidup di tenda itu sangat mengejutkan. Orang-orang yang hidup di tenda di Jerman itu merasa lebih enak kalau hidup di tenda di situ daripada di negaranya perang. Waktu itu saya lihat. Jadi mereka kaget. Nah itu tadi saya bilang, karena pengetahuannya mereka cuma sepotong. Mereka cuma tahu bidangnya sendiri. Makanya setahun lagi bagian dari literasi adalah supaya kita memahami bidang di luar kita. Dan ini sebetulnya kesempatan sekarang.
Kita sekarang tiba-tiba sadar. Bahwa yang perang di sana, yang naik BBM-nya kita gitu kan? Yang perang di sana, yang kesulitan plastik kita kan? Sekarang harusnya sadar kan? Bahwa semua itu kan berantai. Itu yang menurut saya penting. Website kalian harus memperkenalkan tuh. Betapa bahwa dunia itu saling terkait.
Dari hal kecil. Bahwa yang perang di mana, yang harga harga barangnya yang naik di sini. Sementara Trump-nya masih seneng-seneng. Itu yang kita harus melihat. Jadi artinya jangan melihat secara sepotong-potong. Itu poinnya menurut saya. Bahwa ini kita harus melihat dalam sebuah gambar besar. Ini yang menurut saya saya lumayan khawatir bahwa generasi sekarang kan tidak melihat seperti itu. Karena sekali lagi semua melihatnya dalam hal kecil. Dalam satu layar kecil yaitu 6,7 inci HP.
Dunia kan makin sempit. Tapi kalau kita melihat secara lebar kan sebetulnya saling terkait semua. Termasuk yang perang di sana yang tidak aman kita. Kalo nanti PHK kan banyak kejahatan. Nah hal seperti itu yang menurut saya harus diperkenalkan. Saya nggak tahu gimana cara memperkenalkannya. Tapi bahwa dunia itu saling terkait itu yang paling penting.
Mungkin kita beralih ke domestiknya mas. Ini yang lagi panas banget.
Semoga saya bisa jawab ya.
ini terus terang aja ya mas. Langsung ke poinnya aja tentang demokrasi gitu mas. Beberapa hari lalu ada satu pakar yang bilang kita turunin aja presiden gitu. Nah banyak orang yang mikir bahwa, “oh ini adalah dalih makar” gitu. Tapi bukankah itu feature di dalam demokrasi mas?
Ya itu kan salah satu bentuk ketidakdewasaan. Sebetulnya kalau kita namain negara demokrasi, seperti orang yang bilang turunin Trump nggak ada yang peduli. Masalahnya kita di situ kok. Kalau menurut saya sih sekarang masalahnya gini ya di Indonesia yang pertama, orang itu, pertama tidak bisa dikritik.
Yang kedua tidak punya sense of humor. Itu poin, dua poinnya itu sih menurut saya yang penting sih. Kita nggak usah bicara teori-teori macam-macam kok.
Anti demokrasi, itu bukan soal anti demokrasi menurut saya. Mereka tahu demokrasi kok. Tapi mereka kan sekali lagi anti kritik aja orangnya. Tidak biasa dikritik. Atau pandangan yang berbeda dianggap sebagai musuh. Itu yang menurut saya kita harus belajar dari sekarang.
Yang saya nggak tahu belajarnya dari mana. Tapi menurut saya awalnya dari kelas ya. Termasuk kan saya dulu selalu menikmati kalau kalian berbeda pandangan dengan saya kan. Saya tidak menikmati kalau saya di-iyain gitu. Karena saya kan produk dari perang di kelas. Jadi makanya itulah sekarang yang menurut saya dihadapi di Indonesia itu.
Orang itu makin kehilangan sense of humor kalau menurut saya. Kalau penjelasan yang dirasakan sehari-hari menurut saya, pertama kita tidak biasa dengerin orang yang berbeda pandangan, apapun itu ya. Ya kebetulan kasus terakhirnya politik. Tapi dalam semua bidang begitu kok.
Tapi itu sekali lagi bukan fenomena Indonesia kok. Itu fenomena Amerika juga kan sekarang. Amerika sekarang sudah jadi gitu kan. Dan sekarang saya lihat itu gawatnya ya. Di Amerika itu sekarang di kampus ya. Sekarang kalau saya, ini sekali lagi saya baca ya.
Sekarang saya belum pernah, itu di Amerika. Banyak mahasiswa yang tidak berani ngomong karena takut disebut antisemit. Sama sebetulnya. Itu fenomena yang sama. Dan itu saya tidak tahu kenapa ya. Justru sekarang ironisnya dengan zaman media sosial yang begitu informasi itu begitu gampang.
Tapi kok pandangan, perasaan-perasaan seperti itu makin meningkat. Saya nggak tahu itu kok apakah itu anomali atau tidak. Jadi sebetulnya apa yang terjadi di Indonesia sebetulnya juga terjadi di Amerika kok.
Kalau kita baca sekarang tentang diskusi beberapa dosen di kampus Amerika, mereka mengajar ngeri loh. Mereka penuh dipenuhi oleh, dalam tanda petik rambu-rambu. Salah satunya woke itu lah. Woke culture lah. Terus DEI nggak boleh kan?
Dukung begini dikit dianggap sebagai mendukung LGBT dan seterusnya. Jadi menurut saya itu fenomena yang saya nggak ngerti ya.
Ada hubungannya atau tidak, fenomena media sosial. Apa namanya? Echo chamber itu kan. Makin kuat kan echo chamber sekarang kan? Itu yang kalau menurut saya kita harus berperang terhadap itu.
Dan kalau balik lagi tadi ke pertanyaan ke Indonesia, yang sebetulnya sama dengan Amerika. Kita tuh sekarang makin tidak bisa mendengar orang berbeda pandangan dengan kita. Berbeda pandangan itu sama dengan apa namanya kalau dalam bahasa media sosial, lawannya like apa? Lawannya like lah.
Tapi itu, itu kan kita udah nggak bisa nerima pandangan itu. Jadi seolah-olah, yang saya ngeri juga ya kalau saya, ini saya sekali lagi saya bukan ahli media sosial, tapi saya lihat sepintas dari orang-orang yang pakai media sosial ya. Dunia mereka itu seolah-olah di depan, apa namanya, di depan hp mereka itu. Dunia itu sesempit itu.
Kalau saya sering baca, kenapa orang begitu tertekan dengan melihat katakanlah keberhasilan orang. Iri dan seterusnya. Itu kan gara-gara melihat media sosial itu kan? Dan sekali lagi, seolah-olah dunia mereka cuma itu. Kalau saya terjemahinnya gitu. Seolah-olah, “wah orang ini berhasil, saya gagal” pada intinya gitu.
Emang sesederhana itu? Kan itu yang kalau saya lihat jangan-jangan gara-gara media sosial. Jadi fenomena kemunduran demokrasi ini saya takut bukan fenomena Indonesia saja, tapi fenomena global. Dan inilah yang apa namanya, yang berusaha dicegah sebetulnya oleh Eropa.
Media sosial itu dikurangi dan seterusnya. Sebetulnya kenapa Vance itu anti dengan orang Eropa, sebetulnya itu. Karena mereka justru inginnya sebebas-bebasnya. Tapi sebebas-bebasnya menimbulkan kebencian dan seterusnya.
Jadi, sekali lagi, kalau saya sih tidak berkecil hati dengan aktivis diapa-apain segala macam, dalam arti itu kan fenomena global. Hanya memang yang membedakan adalah penggunaan kekerasannya.
Jadi apa namanya, orang-orang yang anti itu tidak sampai diapa-apain lah. Kasarnya gitu lah. Belum paling tidak. Di Amerika belum lah. Walaupun sudah ada beberapa kasus, ada. Tapi kan belum seperti kita lah. Jadi kalau menurut saya itu kembali ke tadi. Ketidakmampuan kita untuk menerima pandangan berbeda. Yang makin diperkuat oleh media sosial itu.
Dan ini adalah sistematik dari atas ya mas?
Kalau dibilang sistematik, kalau menurut saya sih, siapapun yang berkuasa itu akan belajar bagaimana supaya kekuasaanya aman. Jadi bukan karena sebuah desain.
Saya tuh kok gak percaya dengan desain kayak gitu-gituan. Tiba-tiba, makanya kan contoh sederhana gini. Banyak orang-orang yang dulunya aktivis, begitu masuk sistem kan berubah. Jadi menurut saya itu contoh, bukan desain. Begitu di dalam, mereka tiba-tiba sadar. “Aduh, itu kan dulu kan saya mencapainya bukan dengan cara yang benar” atau “sekarang enak ya”.
“Kalau saya diganggu, keenakan saya ini kan bisa diganggu”. Nah, itu kurang lebih jadi bukan sesuatu yang desain. Sesuatu yang akan melekat secara perlahan pada saat dia menjabat. Kalau saya sih ngeliatnya gitu ya. Saya menerjemahkannya begitu.
Jadi soal penyiraman air keras itu sebetulnya, itu fenomena yang itu keluar batas tapi semua negara ada tindakan serupa. Meskipun skalanya gak sekeras itu?
Kalau saya sih menurut saya gitu loh. Karena sekarang seperti yang saya sebut kan, Marjorie Greene tadi yang saya sebut ya, anggota Republican. Dia dulu orang dekat Trump.
Dia sendiri sudah mengalami ancaman-ancaman. Fenomena ancaman itu adalah sesuatu hal yang sebetulnya jangan-jangan sudah beredar luas.
Atau kalau kita lihat misalnya contoh sederhana saja. Sikap-sikap antisemitisme. Itu kan juga sikap anti ya sebetulnya. Itu sebetulnya sudah ada di Eropa juga sudah ada. Tapi bedanya, yang membedakan dengan kita, adalah penggunaan kekerasan. Karena apa? Karena mereka hukumnya masih kuat.
Jadi mereka, katakan kalau mereka macam-macam, mereka lapor polisi dan pasti ditangani. Tapi dalam kasus Amerika sudah mulai pilih-pilih lho. Terutama sejak Trump naik ini kan. Trump itu terutama menyikat orang-orang yang anti dia. Di FBI atau di kepolisian dan segala macam sudah mulai. Makanya yang kemarin maju kan ICE segala macam.
Tapi intinya adalah bahwa, itu adalah fenomena global. Hanya yang membedakan mungkin kalau menurut saya adalah penegakan hukumnya. Dan itu yang sebetulnya yang kita harus tekankan kembali pada penegakan hukum.
Dan kasus Trump sendiri juga membuktikan korupsi itu ada di Amerika. Penyalahgunaan kekuasaan ada di Amerika. Cuma sekali lagi bisa diuber.
Di sini nggak bisa ya?
Saya duga sih nggak bisa. Sejauh yang saya lihat. Ini saya baru baca beberapa menit yang lalu direktur FBI Kash Patel itu dia itu sekarang lagi nguber orang-orang yang dulu nguber dia.
Kenapa? Karena dia itu dituduh menyalahgunakan fasilitasnya untuk pacarnya. Tapi sekali lagi, Buat saya menariknya satu. Bahwa ternyata ada orang yang nguber loh. Dan yang diburu sekarang wartawan. Jadi wartawan itu dianggap stalking pacarnya.
Tapi buat saya menariknya itu tadi saya bilang. Ada ternyata pihak yang berusaha membela orang yang dituduh ini. Kalau di kita jangan-jangan nggak ada ya. Itulah yang namanya penegakan hukum. Hukum masih berjalan. Itu yang menurut saya berbahaya, ketiadaan hukum itu.
Tapi mas kalau misalkan ngelihat itu kalau kejaksaan agung, konferensi pers, uang sampai ditumpuk-tumpuk itu itu bagian dari penegakan hukum bukan Mas?
Saya jujur aja, saya nggak ngerti ya, itu apakah, saya belum pernah lihat tuh di negara barat kayak gitu. Saya jujur saja nggak pernah lihat.
Atau justru karena uangnya uang cash ya. Jadi orang-orang yang korupsi itu saking nggak tahu kemana duitnya makanya duitnya cash kan. Mungkin kalau kejahatan-kejahatan di negara-negara maju kenapa tidak bisa begitu? Karena mereka langsung mengirim ke negara-negara yang safe haven itu kan.
Apa namanya, shell company segala macam. Sementara mereka tidak bisa kan. Maksudnya kemarin, di Surabaya nih kejahatannya kalau nggak salah, ada hakim yang punya duit 1 triliun dan kayaknya dia banknya itu kan.
Jadi karena duitnya nggak bisa disimpan di mana-mana, duitnya kan cash. Ya akhirnya nyimpen ke hakim itu. Duitnya masih 1 triliun, gila kan 1 triliun. Dan diduga itu bukan duitnya dia lagi. Nah nggak, kalau menurut saya contohnya adalah justru karena tidak canggih itu ya. Kalau balik lagi karena tidak canggih makanya duitnya harus cash.
Kalau yang canggih nggak perlu, kirimlah ke mana, ke Pulau Virginia atau apa namanya istilahnya pulau-pulau yang safe haven itu kan. Tapi kalau balik tadi ke penegakan hukum, ya memang saya nggak pernah lihat sih di negara lain ada praktek seperti itu ya, uang dipertunjukkan. Apakah itu menunjukkan bahwa kebodohan atau apa, saya nggak ngerti ya.
Tapi setahu saya itu tidak masalah ya, kalau uangnya, buktinya tidak masalah. Tapi yang masalah ada kalau tertuduhnya kan. Saya nggak tahu, secara hukum. Secara hukum.
Esensi Ilmu Politik
Secara normatif, mungkin ini agak di penghujung acara aja sih mas. Secara normatif apa sih menurut mas yang harus kita lakukan? Seminim mungkin kayak sekecil hal-hal sekecil apa yang bisa merubah ini semua?
Ya kalau saya sih selalu berusaha normatif satu sih. Kembali ke diri kita masing-masing kan. Kalau saya, ini alasan saya dulu belajar politik ya. Saya dulu belajar politik karena saya nggak mau dibohongi. Sesederhana itu saja. Akibatnya tadi kemana-mana kan.
Kemudian, wah, belajar politik Indonesia susah, belajar politik HI. Tapi semua intinya kan satu, karena tidak mau dibohongi. Nah, yang saya takut sekarang adalah kesadaran itu tidak ada ya. Jadi seolah-olah belajar politik itu karena saya belajar di FISIP. Kalau saya sih jujurnya dulu saya belajar politik karena saya nggak mau dibohongi soal politik. Itu poin penting saya sih.
Makanya saya menikmati itu. Apa yang saya pelajari saya menikmati. Karena buat saya itu bukan pelajaran dalam arti kuliah. Tapi itu adalah pelajaran buat diri saya. Saya nggak dibohongin. Paling tidak itu sih.
Hal sederhana yang saya berusaha tularkan, kalau saya ngajar politik Indonesia, saya selalu ngajarin gitu. Tujuan saya adalah supaya orang nggak boleh dibohongi secara politik. Bahwa nanti kalian setuju atau tidak, itu urusan lain.
Tapi sekali lagi, saya tidak mengajarkan teori ya. Saya mengajarkan supaya kalian tahu tentang politik. Dan intinya adalah supaya tidak diboongin.