Surat kepada Tsuburaya
Bagi sebagian besar Milenial maupun Gen-Z, Ultraman dan kawan sejenisnya seperti Power Rangers dan Kamen Rider adalah tontonan laga masa kecil. Formulanya sederhana; ada karakter utama yang memiliki kemampuan khusus untuk melawan penjahat, biasanya berupa monster atau manusia lain yang beritikad jahat.
Serial Ultraman yang diciptakan oleh Tsuburaya sendiri pada masanya memimpin inovasi penayangan dengan konsep pahlawan raksasa, lalu meminjam karakter monster dari Godzilla dan perubahan host dari sejumlah serial pahlawan Jepang lainnya.
Namun, yang benar-benar menjadi pembeda adalah nilai pembelajaran serta plot cerita yang tidak malu-malu merambah ke topik serius. Tidak jarang menemui episode yang memperlihatkan monster sebagai perwujudan korban kerusakan lingkungan, dosa dan konsekuensi kehancuran perang, hingga manipulasi persepsi publik.
Perlu diingat bahwa series Ultraman dimulai pada 1966 dan terus mengemban nilai yang konsisten hingga 2007. Sebagai catatan, Paris Agreement, upaya serius internasional untuk perubahan iklim baru ditandatangani pada tahun 2016. Prakonsepsi awalnya pun baru dibahas pada tahun 1997.
Mengapa serial anak-anak berani mengambil topik yang serius, lalu bagaimana akhirnya Tsuburaya meninggalkan keunikan series ini.
Periode Humanis Jepang Pasca Perang
Audiens lokal di Jepang secara historis menoleransi penggambaran keadaan di film yang sebagaimana adanya.
Kebangkitan ekonomi dan penyembuhan luka perang membuat masyarakat mencari identitas baru.
"Jepang membutuhkan penempatan nilai yang tinggi untuk dirinya sendiri agar mampu pulih."
— Akira Kurosawa
Apabila ingin melihat perkembangan Ultraman, maka cukup melihat bagaimana Godzilla berkembang sebagai maskot untuk ketakutan Jepang. Monster hasil percobaan nuklir, korban dari keserakahan intelektual manusia, berbalik menghancurkan kota dan alam.