Politik

Alternatif Perubahan dalam Fridays for Future

By Jason Fernando19 Agustus 2026

Pada 2018, seorang remaja Swedia berusia lima belas tahun memilih duduk sendirian di depan gedung parlemen alih-alih masuk kelas. Tujuh tahun berselang, aksi soliter itu telah menjelma gerakan global yang turut mendorong lahirnya putusan Mahkamah Internasional serta resolusi Majelis Umum PBB perihal iklim. Tulisan ini menelusuri bagaimana keresahan seorang individu mampu menggoyang forum hukum sekaligus forum politik tertinggi dunia.

Coba kilas balik sejenak, kapan terakhir kali sebuah berita tentang remaja yang absen dari sekolah justru menjelma menjadi headline dunia? Peristiwa semacam itu pertama kali muncul pada 2018, tatkala seorang remaja Swedia berusia lima belas tahun memutuskan absen dari kelas dan duduk sendirian di depan gedung parlemen negaranya. Kala itu, aksinya tampak sekadar hanya keisengan yang akan terlupakan seminggu kemudian. Dugaan tersebut, pada akhirnya, meleset jauh.

Remaja itu bernama Greta Thunberg. Aksinya pada 20 Agustus 2018 menjadi cikal bakal gerakan yang kini dikenal sebagai Fridays For Future (FFF), dan telah menjalar ke lebih dari seratus negara. Angkanya sendiri terbilang mengejutkan. Pemogokan global pertama pada 15 Maret 2019 saja telah melibatkan sekitar 1,6 juta pelajar di 125 negara. Enam bulan berselang, tepatnya 20 September 2019, jumlah tersebut menembus lebih dari empat juta orang, dengan 1,4 juta di antaranya berasal dari Jerman saja.

Indonesia, kendati kerap dianggap agak lambat merespons tren global, justru sudah mencatat 116 aksi protes iklim sepanjang 15 Maret 2019 hingga 26 Maret 2021. Bagi sebuah gerakan yang masih seumur jagung, capaian tersebut terbilang jauh dari remeh.

Lebih dari Sekadar Absen dari Kelas

Angka-angka tersebut memang menarik, tetapi yang lebih menimbulkan rasa penasaran ialah bagaimana keresahan seorang remaja di Stockholm dapat berubah menjadi tekanan politik yang dirasakan pemerintah dari Jakarta hingga Ottawa. Bagi siapa pun yang menekuni hubungan internasional, pertanyaan semacam ini terasa sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Sebagian jawabannya terletak pada globalisasi komunikasi. Media sosial berperan layaknya mesin pemampat jarak dan waktu, sebuah tagar mampu menjangkau ribuan orang hanya dalam hitungan jam, jauh lebih cepat ketimbang jalur diplomasi resmi yang lazimnya memakan waktu berbulan-bulan. Ada pula penjelasan teoritis yang lebih mendalam soal fenomena ini, dan salah satu yang paling menarik perhatian penulis sejak masa kuliah adalah konstruktivisme.

Wendt menyatakan bahwa struktur politik internasional tak pernah baku dari sananya, melainkan dibentuk melalui interaksi dan makna yang disepakati bersama antarnegara. Krisis iklim sesungguhnya telah lama diketahui secara ilmiah, tetapi baru menjadi urusan politik yang mendesak setelah dibingkai ulang lewat narasi keadilan antargenerasi yang diusung Greta beserta para pengikutnya.

Finnemore dan Sikkink menyebut aktor semacam ini sebagai norm entrepreneur, yakni individu yang menanamkan gagasan baru hingga akhirnya diterima secara luas dan memaksa negara turut berubah, suka maupun enggan.

Ketika Suara Jalanan Menembus Mahkamah Internasional

Bagian paling menarik dari kisah ini justru muncul belakangan, yakni bagaimana aksi jalanan tersebut kini memiliki jangkar hukum yang nyata. Pada 23 Juli 2025, Mahkamah Internasional mengeluarkan pendapat penasihat bersejarah yang menyatakan bahwa negara memiliki kewajiban mengikat di bawah hukum internasional untuk mencegah kerusakan signifikan terhadap sistem iklim. Lima belas hakimnya sepakat bulat, sesuatu yang jarang terjadi di lembaga tersebut.

Kisahnya belum usai sampai di situ. Pada 20 Mei 2026, Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi yang menyambut pendapat penasihat tersebut dengan 141 suara mendukung, delapan menolak, dan 28 abstain. Gerakan yang semula dianggap sekadar ulah anak-anak yang absen dari sekolah kini telah menembus forum hukum tertinggi sekaligus forum politik tertinggi dunia.

Situasi ilmiah di baliknya turut memprihatinkan. Organisasi Meteorologi Dunia mencatat suhu rata-rata global pada periode Januari sampai Agustus 2025 sudah 1,42 derajat Celsius di atas level pra-industri, dengan margin ketidakpastian 0,12 derajat. Angka ini lebih dari sekadar kepanikan berlebihan, sebab ia mencerminkan tren pengukuran ilmiah yang konsisten dari tahun ke tahun.

Euforia yang Perlu Diimbangi Kehati-hatian

Meski demikian, FFF jauh dari sempurna, dan hal ini tak perlu ditutup-tutupi. Gerakan ini kerap dikritik lantaran lebih mewakili suara anak muda kelas menengah di negara maju, yang memiliki akses internet stabil dan ruang demokrasi yang longgar.

Anak muda di negara dengan represi politik ketat menghadapi risiko jauh lebih besar hanya untuk bersuara. Ketimpangan akses semacam ini mengingatkan pada catatan Kaldor tentang masyarakat sipil global, bahwa medannya memang tak pernah benar-benar rata.

Ambil contoh soal ambang batas partisipasi. Merujuk pada angka 3,5 persen populasi yang menurut peneliti Harvard, Erica Chenoweth, lazimnya diperlukan agar perlawanan nirkekerasan berhasil mengubah kebijakan, gerakan iklim Indonesia idealnya harus melibatkan sekitar 9,5 juta orang dari total 270,2 juta penduduk. Angka partisipasi kita saat ini masih jauh dari target tersebut.

Padahal, jika melihat tren beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia sesungguhnya berlimpah alasan untuk turun ke jalan, hanya saja isunya berbeda-beda: ada yang menyangkut ekonomi, ada yang menyangkut politik dalam negeri, dan ada pula yang menyangkut iklim.

Barangkali pertanyaan yang lebih relevan sekarang adalah bagaimana caranya suara-suara yang sudah ramai ini dapat terhubung menjadi satu tekanan yang cukup besar untuk benar-benar mengubah kebijakan, ketimbang mempersoalkan lagi kesediaan anak muda Indonesia untuk bersuara, atau membiarkannya sekadar menjadi tren yang berlalu begitu saja di linimasa.

Pada akhirnya, FFF mengajarkan satu hal sederhana yang kerap dilupakan para pengambil kebijakan: perubahan besar tak selalu lahir dari ruang sidang formal. Kadang, perubahan itu bermula dari satu orang yang berani duduk sendirian, lalu perlahan tumbuh menjadi gerakan yang memaksa dunia untuk mendengarkan.

Bagi siapa pun yang masih menganggap aksi seorang individu mustahil membawa pengaruh berarti, barangkali inilah momen yang tepat untuk meninjau ulang anggapan tersebut.


Jason Fernando

Tentang Jason Fernando

Global South and Sustainability Researcher

Lihat Profil →